Sabtu, 15 Maret 2014

sapu tangan merah lusuh

sapu tangan merah lusuh Di sunyinya malam aku terbangun karena mimpi yang sangat menakutkan. Yah, mimpi yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Bibirku bergetar, mataku gelisah, ketakutanku tak pernah hilang. Aku sadar semuanya telah berlalu, tetapi mengapa masih terekam di memori ku. Kembali aku menggegam sapu tangan merah lusuh kesayanganku, setiap kali mimpi itu mengganggu tidurku. “ayah apakah ibu masih tidur?”, Tanya ku pada ayah yang maasih sibuk membaca Koran paginya. Pagi ini aku tidak melihat ibu di dapur, bahkan tak juga di meja makan. Biasanya ibu sudah sibuk dengan semua persiapan sebelum aku berangkat ke sekolah dan ayah pergi untuk bekerja. Ayah berhenti membaca lalu menjawab pertanyaanku, “ibu sedang kurang enak badan, ayah hanya bisa membuatkan telur mata sapi dan tahu goreng untuk bekal mu nanti, jangan lupa minum susumu, ayah ijin bekerja karena akan merawat ibu.” Ibu sakit? Biasanya jika hanya demam biasa ibu akan tetap menyiapkan sarapan untuk kami, ini tidak seperti biasanya. Aku ingin sekali ijin tidak masuk sekolah untuk menjaga ibu, tetapi hari ini aku akan menghadapi ujian semester ganjil hari yang pertama, aku tidak mungkin meninggalkan ujian tersebut. Ibu adalah duniaku, ia seorang perempuan yang sangat ku sayangi. Aku tidak pernah membiarkannya jauh dari ku, begitu pula ibu yang tidak bisa melepaskan ku jauh dari pandangannya. Dia sosok wanita hebat yang pernah ku miliki. Bukan berarti aku tidak menyayangi ayah, aku juga menyayanginya yang juga selalu ada buat aku dan ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan keluarga kami. Kami keluarga kecil yang tidak pernah merasa kesepian walaupun kami hanya bertiga di rumah. Aku putri tunggal mereka yang tumbuh dipenuhi dengan keceriaan dan suka cita, hamper tidak ada kesedihan di rumah kami walaupun lelah beraktifitas tetapi ketika kembali ke rumah suasana rumah yang hangat akan menghilangkan semua rasa penat itu. Setelah berpamitan pada ayah aku segera bergegas karena tidak mau terlambat. Aku tidak dapat berkonsentrasi pada ujian hari ini, padahal aku sudah belajar semalaman. Pikiranku hanya tertuju pada ibu. Bel pulang sekolah berbunyi aku mengemasi buku-buku ku dan segera berlari mencari bus yang sejurusan dengan arah rumahku. Ketika sampai di rumah aku tidak menemukan ibu dan ayah dimana-mana. Ku raih telepon di atas meja dan menekan beberapa nomor, tidak lama kemudian belum sempat telepon itu diangkat aku mendengar suara mobil menuju garasi dan yang aku tahu itu mobil ayah, aku meletakkan gagang telepon itu kembali dan berlari menuju garasi. Benar ayah dan ibu keluar bersama dan dari pintu belakang keluar juga bunda Sari. Bunda sari adalah penjagaku sewaktu aku masih bayi hingga aku tamat SMP. “bunda ngapain disini?” “ah, bunda hanya berkunjung sayang, apa kamu nggak kangen sama bunda?” “kangen banget lah bunda. Ketemu ayah sama ibu dimana bukannya bunda di Bandung?” “ceritanya panjang sayang, bunda ingin menginap beberapa hari disini untuk melepas rindu dengan kalian, bunda kesepian di rumah sendiri. Bagaimana?” “tentu saja boleh, iya kan ayah, ibu?” Mereka mengangguk bersamaan. Bunda sudah lebih dari dari seminggu menginap lagi di rumah, ia mengerjakan semua pekerjaan ibu, karena kesehatan ibu semakin menurun. Ayah masih tidak mau jujur tentang penyakit ibu, ia selalu mengalihkan pembicaran jika aku bertanya tentang kesehatan ibu. Bertanya pada ibu sama saja tidak menghasilkan sebuah jawaban, ibu hanya meyakinkan aku bahwa ia baik-baik saja dan berusaha mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Tetapi bunda akan melarang ibu mengerjakan tugas-tugas tersebut. Satu bulan sudah berlalu, tetapi mimpi buruk itu tetap enggan meninggalkan malam-malam sunyiku. Ayah tetap bekerja setelah kejadian itu tetapi tak ku lihat semangat pagi yang selalu terpancar dulu. Aku masih belum berniat mencari perguruan tinggi. Aku masih ingin berada di rumah lebih lama. Bunda tetap datang mengunjungi kami bahkan ia berniat pindah rumah ke Jakarta. Selain karena suami bunda pindah tugas ke Jakarta. Bunda mencari rumah dekat rumah kami, padahal dari tempat kerja suaminya cukup jauh. Tetapi ia lebih mengkhawatirkan aku. Terutama setelah aku kehilangan duniaku. Aku baru mengetahui kebenaran itu setelah 4 bulan berlalu. Ketika ibu tiba-tiba jatuh pingsan di kamar mandi. Aku bingung karena waktu itu bunda sedang pulang ke Bandung untuk melihat keadaan rumah. Aku menelepon ayah yang masih di kantor. Ayah segera pulang dan meninggalkan rapat pentingnya dan membawa ibu ke rumah sakit. Baru aku mengetahui apa penyakit ibu sebenarnya. Tumor ganas di otak, stadium akhir. Aku hanya menangis mengetahui kenyataan tersebut. Ayah yang dulu menutup-nutupi kini hanya bisa tertunduk lemas di samping tubuh ibu yang terkulai lemah belum sadarkan diri dengan mata yang sembab basah karena menangis. Bunda memelukku dari belakang. Aku datang merapatkan diri pada ayah dan ibu. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku harus tetap maju. Ibu disana pasti akan sangat sedih melihatku yang kini hanya menjadi perempuan yang tidak berguna dan hanya meratapi duka cita yang sudah berlalu. Ibu akan senang bila anak semata wayangnya menjadi seseorang yang tumbuh dan berguna bagi orang lain dan dapat membanggakan ibu terutama ayah yang masih bersama ku. Aku bangkit aku ingin menjadi seseorang yang nantinya juga akan dicintai seperti aku mencintai ibu. Kini aku menatap masa depan dan melangkah dengan berani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar